Tampilkan postingan dengan label Berita Pilihan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Pilihan. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Desember 2023

Kapal Bertujuan Israel Memutar Balik Atas Desakan Yaman



Kemenhan Yaman, Minggu (10/12/2023) seperti dikutip TV Al Mayadeen mengumumkan, "Tindakan yang tepat terhadap sebuah kapal yang tidak mengindahkan peringatan kami, sudah dilakukan.

Setelah Juru bicara Angkatan Bersenjata Yaman, mengumumkan pelarangan kapal-kapal bertujuan Rezim Zionis, melintasi perairan Yaman, Kementerian Pertahanan negara ini mengabarkan kapal pertama bertujuan Israel, tak diperbolehkan melintas, dan terpaksa memutar balik.

Kapal itu dilarang melintas, dan terpaksa memutar balik."

Surat kabar Israel, Yedioth Ahronoth, di situsnya menulis, "Kelompok Houthi hari ini mengklaim telah melarang sebuah kapal yang berlayar menuju Israel, melintasi perairan Yaman."

Direktur Eksekutif Pelabuhan Eilat kepada Radio Militer Israel mengatakan, "Bagaimana mungkin kalian membiarkan kelompok Houthi, menciptakan masalah ekonomi serius, bagaimana mungkin kalian membiarkan ekonomi hancur."

Sebelumnya Jubir Angkatan Bersenjata Yaman, Brigjen Yahya Saree, menegaskan bahwa Sanaa, tidak akan mengizinkan kapal-kapal yang berlayar menuju Wilayah pendudukan, melintasi perairan Yaman, kecuali membawa obat-obatan dan makanan untuk Gaza.

"Setiap kapal yang menuju Rezim Zionis akan menjadi target legal kami. Kami peringatkan seluruh kapal dan perusahaan, jangan menjalin hubungan apa pun dengan pelabuhan-pelabuhan Israel," pungkasnya.

Rabu, 22 November 2023

Benjamin Netanyahu Buka Suara soal Deal Hamas-Israel

Belakangan ini konflik israel dan palestina makin memanas seperti di kutip dari The Guardian Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu buka suara atas potensi kesepakatan (deal) antara Israel dan Hamas. Sebelumnya Qatar memediasi kedua pihak yang berkonflik, di mana Hamas akan membebaskan sandera dan Israel harus menghentikan serangan ke Gaza, Palestina.


Hamas menyandera 240 warga Israel dalam serangan 7 Oktober. Gaza sendiri telah dibombardir pasukan Tel Aviv sejak itu, di mana 13.300 orang lebih tewas, dengan dominasi anak-anak dan wanita.

Mengutip The Guardian, Rabu (22/11/2023) pagi, saat ini pemerintah Israel tengah melakukan rapat kabinet untuk membahas deal tersebut. Namun, Netanyahu dalam pidatonya menegaskan meski deal terjadi, perang akan terus berlanjut.

Israel, kata dia, akan melanjutkan perangnya melawan Hamas. Bahkan jika gencatan senjata sementara dicapai untuk membebaskan sandera.

"Kami sedang berperang, dan kami akan melanjutkan perang," katanya juga dimuat media Amerika Serikat (AS), Associated Press (AP).

"Kami akan melanjutkannya sampai kami mencapai semua tujuan kami," tambahnya.

Laporan sama juga dijelaskan Al-Jazeera. Netanyahu menegaskan akan menghancurkan Hamas.

"Ada pembicaraan yang tidak masuk akal di luar sana bahwa setelah mengembalikan korban penculikan, kami akan menghentikan perang," kata Netanyahu lagi.

"Jadi saya ingin mengklarifikasi: Kita sedang berperang, kita akan terus berperang, kita akan terus berperang sampai kita mencapai semua tujuan kita. Kami akan menghancurkan Hamas, kami akan mengembalikan semua korban penculikan dan orang hilang dan kami akan memastikan bahwa di Gaza, tidak akan ada pihak yang menjadi ancaman bagi Israel," jelasnya.

Meski belum pasti, deal antara Hamas dan Israel kemungkinan akan membebaskan sekitar 50 tawanan Israel- wanita dan anak-anak- dalam jangka waktu lima hari. Sekitar 140 tahanan Palestina- wanita dan anak-anak- juga diperkirakan akan dibebaskan dalam beberapa hari.

Namun, sumber-sumber politik mengatakan kepada Channel 13 Israel mengatakan selama fase itu, pengungsi Palestina di Gaza tidak akan bisa kembali ke utara untuk memeriksa rumah mereka. Situasi dilaporkan masih berbahaya.

Sementara itu, Qatar menyebut masih terus menunggu Israel. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majid al-Ansari mengatakan proposal gencatan senjata memang telah diberikan sejak Selasa dini hari.

Kata Petinggi Hamas

Hamas juga memberikan konfirmasi soal kemungkinan deal dengan Israel. Pemimpin Hamas Ismail Haniyeh menegaskan kesepakatan sudah di dekan mata, kemarin.

"Kami hampir mencapai kesepakatan mengenai gencatan senjata," kata Haniyeh, menurut pernyataan yang dikirim oleh kantornya kepada AFP.

Namun sayangnya tak ada detil yang disampaikan. Meski begitu, sebelumnya sejumlah pejabat Hamas mengatakan Israel kerap mempersulit pembicaraan.

"Kami beberapa kali nyaris dan mereka merusak keseluruhan proses," kata juru bicara Osama Hamdan.

"Gencatan senjata harus diimplementasikan sepenuhnya agar kesepakatan yang disepakati dapat disepakati," tegas salah satu pejabat lain Zaher Jabareen.

Rabu, 25 Oktober 2023

Presiden Turki mengatakan Hamas, bukan organisasi teroris


 

Presiden Turki, mengaku telah membatalkan kunjungannya ke Wilayah pendudukan, dan mengatakan Hamas, bukan organisasi teroris, mereka berjuang untuk membebaskan tanah airnya.

Recep Tayyip Erdogan, Rabu (25/10/2023) seperti dikutip kantor berita Anadolu menegaskan, Hamas bukan organisasi teroris tapi "pasukan pembebasan" yang berjuang untuk tanah air, dan rakyat Palestina. 

Pada saat yang sama Erdogan, mengaku sudah membatalkan rencana kunjungannya ke Wilayah pendudukan. 

"Kami punya niat baik terkait Israel, tapi mereka menyalahgunakan niat baik kami, dan saya sudah membatalkan kunjungan ke Israel," katanya. 

Menurut Presiden Turki, antara bangsa Yahudi, dan Zionis terdapat perbedaan. Ia menuturkan, "Bangsa Yahudi, mengetahui dengan baik bahwa Turki, adalah satu-satunya wilayah yang selama berabad-abad tidak pernah ada anti-Yahudi di dalamnya." 

Erdogan menambahkan, "Amerika Serikat, akan kalah, karena tidak ingin dunia adil. Sekitar setengah dari mereka yang meninggal dalam serangan Israel, ke Gaza, adalah anak-anak, dan ini membuktikan tujuan keterlibatan disengaja dalam kejahatan kemanusiaan."

 "Turki sama sekali tidak punya masalah dengan pemerintah Israel, tapi tidak akan pernah menjustifikasi kejahatan Israel, dan cara kerjanya sebagai sebuah kelompok bukan negara," imbuhnya. 

Presiden Turki, menegaskan bahwa hubungan negaranya dengan Israel, bisa dinormalisasi, tapi Ankara tidak menyaksikan langkah timbal balik dari Israel. (Dari Berbagai Sumber)

Minggu, 20 Desember 2020

Israel Ingin Jalin Kerja Sama Militer dengan Negara Arab


 

Komandan Organisasi Pertahanan Rudal Israel, menuturkan militer pemerintahan Zionis kemungkinan akan berkolaborasi dengan Uni Emirat Arab (UEA) dan juga Bahrain tersangkut pertukaran teknologi rudal.

Moshe Patel dalam wawancara dengan situs The Media Line, Minggu (20/12/2020) menambahkan Tel Aviv bertekad untuk mengembangkan rencana kerja sama militer dengan UEA dan Bahrain, yang baru-baru ini menormalisasi jalinan dengan pemerintahan Zionis.

Namun, lanjutnya, ketetapan seperti itu harus terlebih dahulu disetujui oleh Amerika Serikat. "Pertukaran teknologi rudal antara Israel, UEA dan Bahrain dapat membawa manfaat yang luas bagi kawasan," kata Patel.

Menteri Luar Negeri Bahrain, Abdul Latif Al Zayani dalam sebuah pernyataan, membenarkan rencana kerja sama militer negaranya dan UEA dengan rezim Zionis.

Bahrain dan UEA menandatangani perjanjian normalisasi hubungan dengan Israel di Gedung Putih pada 15 September 2020. Peristiwa ini disaksikan oleh Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri rezim Zionis Benjamin Netanyahu.

Jumat, 04 Desember 2020

Puluhan Penyandang Disabilitas Palestina Ditahan Oleh Israel


 

Dikutip dari Parstoday bahwa Pakar urusan tahanan dan veteran tahanan Palestina, Abdul Naser Ferwaneh mengatakan sekitar 70 penyandang disabilitas Palestina saat ini ditahan di penjara rezim Zionis.

Hal itu disampaikan Ferwaneh pada hari Kamis, 3 Desember 2020 bertepatan dengan peringatan Hari Disabilitas Internasional, seperti dilaporkan Pusat Informasi Palestina.

Dia mencatat bahwa Israel pada Hari Disabilitas Internasional, meningkatkan serangannya terhadap penyandang disabilitas di wilayah pendudukan Palestina dan sama sekali tidak menghormati hak-hak mereka.

Rezim Zionis memenjarakan puluhan orang dengan cacat fisik dan mental di dalam penjara, yang merupakan pelanggaran nyata terhadap semua kesepakatan dan perjanjian internasional,” ucap Ferwaneh.

Sedikitnya 700 tahanan Palestina di dalam penjara Israel menderita berbagai penyakit, termasuk 40 tahanan yang menderita kanker, gagal ginjal, diabetes tingkat lanjut, dan tekanan darah tinggi.

Sekitar 4.800 tahanan Palestina ditahan di penjara-penjara rezim Zionis termasuk 170 anak-anak, 39 wanita, dan puluhan orang lansia.

Ads 970x90