Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Desember 2023

Falsafah Jawa Yang Bagus Artinya



Dalam peradaban jawa kuno banyak sekali pepatah atau ungkapan yang serat akan makna sehingga bisa di jadikan panutan oleh kita semua berikut beberapa falsafah jawa yangn sering kita jumpai di masyarakat beserta artinya.

Alon-alon Waton Kelakon”

Filosofi Jawa diatas memiliki makna “pelan-pelan saja yang penting selamat”. Tentu hal ini mengajarkan kepada kita yang terpenting itu adalah keselamatan, jangan sampai mengejar sesuatu namun tidak memperhatikan keselamatan.

Pada prakteknya juga kita sering kali mendengar orang tua kita menggunakan filosofi Jawa ini, terutama dalam hal bepergian.

Keselamatan memang merupakan hal yang penting jika dibanding dengan kecepatan.

Sapa Nandur Bakalan Ngunduh”

Filosofi Jawa ini sangat terkenal, bahkan menjadi salah satu peribahasa yang paling populer di Indoensia. “Sapa nandur bakalan ngunduh” memiliki arti yaitu, apa yang kamu tanam itu yang akan kamu tuai.

Memang seperti itulah kenyataannya, apa yang kita usahakan itu yang akan kita dapatkan.

Jadi berusaha semaksimal mungkin, supaya kita mendapatkan apa yang kita cita-citakan, jangan lupa dibarengi dengan doa.

Urip Iku Urup”

Filosofi orang Jawa ini sangat dalam, yaitu kita sebagai manusia harus bisa menyalakan orang lain, menyalakan disini bisa jadi membantu.

Menjadi cahaya bagi orang dengan cara menebar kebaikan. Itulah hidup sesudungguhnya, bukankan manusia yang paling baik itu, mereka yang bermanfaat bagi orang lain.

Semoga kita dapat memegang teguh filosofi Jawa ini ya Pins!

Aja Kuminter Mundak Keblinger, Aja Cidra Mundak Cilaka”

Filosofi ini sangat mendidik, di Jawa sendiri merendah sudah diajarkan sejak dini, seperti arti dari filosofi jawa di atas “Jangan meresa pandai agar tidak salah arah, dan jangan berbuat curang agar tidak celaka”.

Arti dari perkataan ini juga mengajarkan kita untuk tidak bersikap sombong dan tetap rendah hati.

Semoga kita diberikan kemampuan menjadi manusia yang dapat mengamalkan filosofi ini.

Sura Dira Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti”

Bagi orang Jawa sendiri kata di atas sangat bermakna sekali, sebab sifat iri, jahat, angkara murka serta picik hanya biasa diatasi dan dikalahkan oleh sabar.

Seperti perkataan Bahasa Minang, “Manang jadi arang kalah jadi abu”. Tidak ada gunanya memperlebar permasalahan dengan pertikaian.

Nerimo ing pandum”

Filosofi Jawa tersebut memiliki makna kejujuran, keiklasan, ringan tangan dalam bekerja, dimana hal ini sangat penting sekali dalam menjalani hidup.

Ikhlas dalam menerima setiap hasil yang telah dikerjakan sangatlah penting. Dalam kata mutiara Bahasa Sunda Kahirupan, pesan ini juga turut disampaikan.

Aja Adigang, Adigung, Adiguno”

Setiap filosofi orang Jawa mengandung makna yang sangat baik, termasuk dengan yang satu ini, memiliki makna yang mendalam bagaimana seharusnya manusia hidup.

Jaga tata krama, jangan sombong dengan kekuatan, kedudukan serta latar belakang keluarga. Memang seharusnya seperti itulah hidup.

Wong jowo iki gampang di tekuk – tekuk”

Ungkapan filsosofi ini memiliki makna, bahwa orang Jawa itu mudah di tekuk-tekuk.

Arti dari ditekuk-tekuk sendiri adalah fleksibel, mudah bergaul dengan yang lain, tanpa memandang status sosial.

Ngunduh Wohing Pangarti”

Setiap orang akan menanggung akibat yang dia perbuat, jadi jangan pernah menyalahkan orang lain apapun yang terjadi pada diri sendiri.

Hal ini mengajarkan kepada kita untuk bersikap lebih hati-hati, bahwasannya kita bertanggung jawab sepenuhnya atas diri kita masing-masing.

Filosofi ini hampir serupa dengan salah satu peribahasa Jawa, yaitu “Iwak kalebu ing wuwu”, yang artinya berhati-hati dalam bertindak.

Ajinhing Diri Saka Lati, Ajining Saka Raga Busana”

Makana dari fisofi ini adalah kehormatan diri manusia berasal dari lisan, sedang kehormatan raga manusia dari pakaiannya.

Tentu yang perlu kita perhatikan adalah lisan, mengingat lisan dapat menunjukan seberapa tinggi kehormatan kita, apakah kita termasuk manusia yang terhormat atau bukan.

Maka jika kita mampu menjaga lisan, Insha Allah akan selamat dunia dan akhirat.

Memayu Hayuning Bawana, Abrasta dur Hangkara”

Makna dari kata di atas adalah, manusia harus dapat mengusahakan keselamatan, kebahagian serta kesejahteraan, dan harus dapat menghilangkan atau memberantas sifat tamak, serakah dan angkara murka.

Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelaman”

Manusia seringkali sangat gampang terpengaruh dengan sutu kejadian, baik membuat mereka senang ataupun sebaliknya.

Adakalanya kita harus bisa belajar dari filosofi yang penuh makna ini, sebagai manusia jangan gampang sakit hati tatkala musibah menimpa, serta jangan sedih tatkala kehilangan sesuatu.

Aja Milik Barang Kang Melok, Aja Mangro Mundak Kendo”

Sifat dasar dari seorang manusia adalah pelupa, mudah tergiur dengan hal yang baru dan belum pasti.

Makannya, filosofi satu ini mengingatkan kepada kita supaya dalam menjalani hidup sebaiknya jangan tergiur oleh-hal-hal yang tampak mewah, cantik dan indah dan jangan berfikir mendua agar tidak kendor niat dan semangat.

Hal ini juga ditekankan di salah satu perkataan Bahasa Batak, “Tumagon Mangolu Pogos Ale Dihormati” yang bermakna lebih baik hidup miskin tetapi terhomat dari pada kaya tetapi terhina.

Mangan Ora Mangan Singpenting Kumpul”

Makan tidak makan yang penting kumpul, kurang lebih seperti itu makna dari filosofi di atas. Bukan tanpa alasan mengapa kita harus selalu kumpul dengan keluarga, sebab agar bisa saling mengingatkan dan menjalani hidupd engan utuh.

Sebab ketika kita menjalani hidup tidak melulu soang uang atau harta secara materil.

Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake, Sekti Tanpa Aji-Aji, Sugih Tanpa Bandha”

Menurut saya pribadi filosofi ini merupakan kata-kata yang sangat bijak sekali, sebab memiliki makna berjuang tanpa perlu membawa massa, menang tanpa merendahkan dan mempermalukan, berwibawa tanpa mengandalkan kekuatan, kekuasaan, kekayaan atau bahkan keturunan, kaya tanpa didasari kebendaan.

Aja Ketungkul Marang Kelungguhan, kadonyan Lan Kemareman”

Makna dari filosofi ini adalah, bahwa kita jangan sampai terobsesi, terkungkung oleh keinginan untuk mendapatkan sebuah kedudukan, kebendaan dan kepuasaan duniawi.

Aja Kuminter Mundak Keblinger, Aja Cidra Mandak Cilaka”

Maksudnya jangan merasa pintar atau pandai supaya tidak salah arah, dan jangan suka berbuat curang supaya tidak celaka.

Saiki Jaman Edan Yen Ora Edan Ora Komanan Sing Bejo Sing Eling Lan Waspodo”

Bahasa ini sangat pas dengan keadaan jaman sekarang, dimana semakin sini, dunia semakin tidak karuan dan semakin kisruh.

Makna dari perkataan di atas adalah ‘sekarang zaman edan, yang gak edan gak bakalan kebagian, hanya orang yang ingat kepada Allah dan waspadalah yang akan beruntuk’.

Senin, 04 Januari 2021

Mengenal Filosof Dan Ulama Besar Muslim


Prestasi dan karya ilmiah Khajeh Thusi diajarkan di lembaga akademisi Barat dan Timur selama berabad-abad setelah kepergiannya. Ia dilahirkan di kota Thus, wilayah Khorasan Iran dan selama hidupnya telah melakukan banyak perjalanan ilmiah ke kota Rey, Qum, dan Irak, serta menduduki posisi yang tinggi di pusat-pusat akademis terpenting di dunia Islam.

Di antara mahakaryanya adalah kitab Syarah Isyarat Ibn Sina, Akhlak Nashiri, dan Tajrid al-‘Itikad, yang masing-masing ditulis di bidang filsafat, etika, dan teologi . Karya-karya ini masih menjadi rujukan para ulama dan peneliti sampai sekarang.

Terlepas dari peran besar Khajeh Nashiruddin Thusi di dunia sains dan pemikiran pada abad ketujuh Hijriyah, ulama besar ini juga memiliki kontribusi di ranah politik dalam melestarikan kehidupan umat Islam selama pendudukan Mongol.

Sejak pasukan Mongol menginvasi Iran yang dimulai dari Khorasan kemudian dalam tempo 40 tahun bergerak ke Baghdad dan pusat Kekhalifahan Abbasiyah, mereka telah melakukan pembantaian dan penghancuran setiap daerah yang dilewatinya. Tidak ada kekuatan yang berani menghalangi mereka, Dinasti Khwarazmian dan bahkan pemerintahan Ismailiyah mampu ditaklukkan di benteng-benteng kokoh yang telah membendung serangan Dinasti Seljuk selama lebih dari 200 tahun.

Dalam situasi seperti itu, semua warisan peradaban Islam akan dimusnahkan dan tidak ada lagi nama Islam atau  yang tersisa di Iran dan Irak. Namun kehadiran ulama besar, Khajeh Nashiruddin Thusi telah menjadi mercusuar harapan bagi umat Islam.

Dengan meneladani kepemimpinan para Keturunan Nabi Agung Muhammad SAW, Khajeh Thusi dengan ilmu dan kepemimpinannya – telah melindungi kaum Muslim dan warisan peradaban Islam. Saat di puncak keputusasaan, dia menghembuskan kehidupan baru ke dalam tubuh umat Islam yang sedang sekarat, 

Taktik Khajeh Thusi ini tidak hanya dipakai di awal invasi Mongol, tetapi ia terus menggunakan pengaruhnya di hadapan para penguasa Mongol untuk melindungi kaum Muslim dan warisan dunia Islam. Berkat kepiawaiannya, ia berkali-kali menyelamatkan nyawa banyak orang dan ulama dari bahaya kematian, serta membebaskan banyak ulama dan masyarakat dari penjara.

Setelah dua kali invasi Mongol ke Iran yang diikuti dengan penghancuran kota-kota dan pembantaian massal, Khajeh Thusi berlindung ke benteng Ismailiyah untuk menyelamatkan nyawanya. Benteng ini lebih aman daripada tempat lain karena kekuatannya.

Ketika serangan Mongol menargetkan benteng Ismailiyah, Khajeh Thusi – yang pernah menyaksikan kekejaman mereka di Neishabour dan Khorasan –  menyadari bahwa mustahil bisa menghadapi pasukan haus darah seperti itu. Dia melihat satu-satunya jalan untuk selamat adalah menyerah dan mengikuti kemauan pasukan agresor. Ia membujuk orang-orang dan para raja untuk menyerah demi mengurangi jumlah korban dan kehancuran.

Khajeh Thusi ingin menyelamatkan nyawa kaum Muslim dan menciptakan peluang untuk mengubah situasi yang memilukan ini. Tentara Khwarazmian dan Dinasti Abbasiyah tidak mampu menahan serangan Mongol, tetapi pemikir besar ini – dengan kecerdasan, kecakapan, dan kesalehannya – mampu menyelamatkan nyawa banyak orang Muslim serta melestarikan budaya dan ilmu-ilmu keislaman dari kehancuran.

Setelah pemerintahan Khwarazmian ditaklukkan, Khajeh Thusi tidak berhenti berjuang dan ia memanfaatkan seluruh kemampuannya untuk mempengaruhi para penguasa Mongol dan mengubah pendirian mereka. Dia mampu menyelamatkan nyawa para ilmuwan berkali-kali, membebaskan banyak tahanan, dan mencegah penjarahan properti Muslim.

Peran yang dimainkan Khajeh Thusi ini mengundang pujian dari masyarakat dan ulama sehingga kedudukannya semakin dihormati dan jumlah pengagumnya bertambah. Di sisi lain, Hulagu Khan – Khan pertama dari dinasti Khan yang menguasai wilayah Persia – sangat menghormati Khajeh Thusi ketika menyadari kepiawaiannya dalam urusan masyarakat. Hulagu Khan sampai-sampai tidak mengambil tindakan apapun sebelum bermusyawarah dengan pemikir besar ini.

Keahlian politik dan kecerdikan Khajeh Thusi telah menginfiltrasi jantung pemerintahan Mongol. Para raja Mongol sangat tertarik dengan para peramal dan astronom. Khajeh Thusi memanfaatkan keahliannya di bidang astronomi dengan sebaik mungkin dan dengan cara ini, ia telah menaklukkan hati Hulagu Khan sehingga sang raja tidak bepergian tanpa meminta petunjuknya dan tidak mengeluarkan hartanya sebelum meminta masukan dari Khajeh.

Khajeh Thusi kemudian memimpin kementerian dan lembaga penasihat para penguasa Mongol. Dia juga mengurusi urusan wakaf negara-negara Islam dan memanfaatkan posisinya untuk menyebarkan ajaran dan memperkuat ilmu-ilmu keislaman.

Khajeh Nashiruddin Thusi tidak hanya dihormati di kalangan para pemikir muslim, tetapi para ulama Sunni juga memuji ulama yang bijak ini. Para tokoh Sunni menganggap Khajeh Thusi sebagai sosok yang berbudi luhur, penjaga ilmu, rendah hati, sopan dan santun, seorang politikus, memiliki kedudukan tinggi, dan menguasai masalah Islam. Mereka menghormati ketokohan dan kedudukan Khajeh Thusi.

Ibnu al-Fuwati, pustakawan di Observatorium Maragheh dan sejarawan abad ketujuh dan delapan Hijriyah mengatakan, “Khajeh Thusi adalah orang yang mulia dan berbudi luhur, memiliki karakter yang baik, dan kerendahan hati, dermawan, dan tidak menolak permintaan orang yang membutuhkan, dan dia bersikap baik kepada semua orang.”

Ibnu Shakir dari sejarawan Ahlu Sunnah, menulis bahwa Khajeh Thusi adalah orang yang sangat ramah, murah hati, toleran, mudah bergaul, dan cerdas, dan ia merupakan salah satu politisi pada masa itu.

Khajeh Nashiruddin Thusi meninggal dunia di Baghdad pada 18 Dzulhijjah tahun 672 H, setelah berjuang seumur hidup tanpa kenal lelah. Dia menghabiskan hidupnya untuk mengabdi kepada kaum Muslim, dan meninggal dunia saat berada di Baghdad untuk mengatur masalah wakaf dan para pemikir. Sebelum meninggal, Khajeh Thusi berwasiat agar jasadnya dimakamkan di Kompleks Makam Kazhimain dan tidak dikuburkan di tempat lain.

Dia juga mewasiatkan agar di atas makamnya, tidak dituliskan kalimat apapun tentang keahlian-keahliannya di bidang ilmiah atau kalimat untuk menyanjung kedudukannya. Para muridnya bersikeras untuk menuliskan sebuah ayat al-Quran atau satu bait dari puisi-puisi karyanya di atas nisan sehingga generasi mendatang mengenali pemilik kubur ini.

Namun, Khajeh Thusi berkata, “Hanya tuliskan nama saya saja di batu nisan, karena ketika kuburan saya bersebelahan dengan kedua imam maksum ini (Imam Musa al-Kazhim dan Imam Muhammad al-Jawad as di kota Kazimain, Irak), maka tidak pantas menulis kalimat penghormatan kepada saya. Jika kalian tetap ingin menulis sesuatu, maka tulislah ayat ini (ayat 18 surat al-Kahf).”

Mengenai wasiat ini, Allamah Hasanzadeh-Amoli, seorang ‘arif dan ulama besar kontemporer Iran menuturkan, “Pemilik buku-buku di bidang hikmah, filsafat, irfan, matematika, fikih, yurisprudensi, ilmu eksak, arsitektur, teknik, dan pendiri Observatorium Maragheh, serta pemilik buku Tabel Ilkhanik yaitu Khajeh Nashiruddin Thusi yang dijuluki sebagai ‘Guru Manusia,’ mewasiatkan agar di atas nisannya dituliskan ayat ini “…sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua” (Al-Kahf, ayat 18) memiliki makna bahwa saya menjulur seperti anjing Ashabul Kahfi di samping makam para imam di kota Kazimain. Dalam hikayat ini, tersembunyi kekayaan makrifat yang besar.

Source Dari berbagai sumber.

Jumat, 08 Mei 2020

Wanita Penghulu Syurga


Fatimah ialah seorang anak, istri, ibu muslimah yang taat pada Allah dan Rasulnya. Ayahnya adalah Muhammad bin Abdullah, Rasulullah SAW. Ibunya bernama Khadijah binti Khuwailid, salah satu dari empat wanita pemuka surga Fatimah juga termasuk salah satunya. Suaminya adalah Ali bin Abi Thalib ra; salah satu dari sepuluh orang Amirul Mukminin yang dijanjikan masuk surga. Dua putranya adalah pemuka pemuda surga, yaitu Hasan ra dan Husain ra. Pamannya ialah pemuka para syuhada bergelar Singa Allah dan Rasul-Nya; Hamzah bin Abdul Muttalib ra. Kunyahnya (nama julukan yang menggunakan ummu dan abu) adalah Ummu Abiha karena baktinya pada sang ayah.

Fatimah bergelar az Zahra sebab wajahnya senantiasa cerah bak sekuntum bunga. Berbagai ujian hidup dan kehidupan telah dialaminya dengan wajah cerah ceria. Tegar dan bersahaja membuat demikian perangainya. Saat masih kecil, Fatimah telah menjadi saksi pembangkangan kafir Quraisy terhadap apa yang dibawa oleh ayahnya. Ialah yang membersihkan pakaian Rasulullah SAW saat kotoran ditimpakan padanya. Ia pula yang dengan lantang berorasi di depan kaum kafir yang menyakiti baginda Rasulullah SAW.
Masa kecilnya tidaklah seperti anak-anak pada umumnya yang penuh dengan keasyikan, kedamaian, juga kebahagiaan. Saat usianya belasan, ia harus rela untuk ditinggalkan sang ibu dan saudari-saudarinya satu per satu. Bayangkan, betapa beratnya ditinggal ibu dan saudari-saudari tercinta dalam kurun waktu yang tidak telalu lama. Namun, bukan Fatimah namanya jika tidak tegar menghadapi ujian. Bahkan, kemudian ia yang mengurusi setiap kebutuhan dari ayahandanya. Benar-benar contoh bakti yang luar biasa. Itulah sebabnya ia terkenal dengan sebutan Ummu Abiha (anak yang menjadi seperti ibu bagi ayahnya).

Beranjak dewasa, Fatimah tumbuh menjadi seorang gadis yang juga luar biasa. Tentang masa mudanya juga tentang menjaga fitrahnya cinta. Rasa yang ada di hati Fatimah, tersimpan sangat rapi. Kata cinta terucapkan hanya ketika ia yang telah mengusik hatinya, hanya ketika dirinya telah bersiap sesungguh hatinya. Pada akhirnya, Ali bin Abi Thalib, menjadi penyempurna separuh agamanya.

Fatimah menikah dengan Ali bin Abi Thalib setelah lamaran Abu Bakar dan Umar untuknya ditolak oleh sang ayah. Ali seorang laki-laki kesatria, penuh keberanian, kesalehan, dan kecerdasan.
Fatimah mengasuh anak-anaknya dan melaksanakan tugas-tugas rumah tangga secara mandiri; seperti menggiling jagung dan mengambil air dari sumur. Pernah suatu ketika Fatimah meminta pembantu kepada ayahnya. Namun, bagaimana jawaban Rasulullah?  Beliau mendatangi putrinya, dan berkata dengan perasaan haru, “Maukah kalian kuberi tahu sesuatu yang lebih baik dari yang kamu minta? Bila hendak naik pembaringan, maka bertakbirlah 34 kali, bertasbihlah 33 kali, dan bertahmidlah 33 kali. Semuanya itu lebih baik daripada seorang pembantu.” Sejak saat itu, Ali dan Fatimah mengamalkan dzikir tersebut hingga akhir hayat. Tak pernah lagi Fatimah meminta pembantu. Tak lagi ia mengeluh atas keletihan yang menderanya.

Kehidupan terus dilaluinya dengan segala apa yang diperintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya hingga ajalnya tiba. Tidak lama setelah ayahnnya wafat, Fatimah meninggal dunia, beberapa bulan setelah nabi wafat. Usianya tidak mencapai 30 tahun.

Jumat, 31 Agustus 2018

Mengeja Kemarahan

Sesungguhnya jika kita mau sadar, amarah hanya akan membawa kerugian bagi pelakunya. Seseorang yang hanya menuruti nafsu amarahnya adalah ibarat orang yang sedang berjalan menuju jurang yang akan menjatuhkannya dan menghancurkan dirinya. Alangkah buruknya tatkala penyesalan itu datang setelah didapati dirinya hancur dan remuk, entah itu disebabkan karena kemarahannya telah menciderai orang lain atau kemarahannnya itu telah menciderai dirinya sendiri.
Bahkan dari sisi kesehatan seseorang yang selalu menuruti nafsu amarahnya akan pula mendatangkan penyakit bagi tubuh fisiknya. Sebagai contoh adalah beberapa dampak sebagaimana yang telah dilansir oleh Boldsky, yakni:



1.      Stres
Efek setelah marah adalah stres. Setelah kemarahan kita mereda, kita akan mengalami stres dan stres dapat menyebabkan penyakit serius seperti diabetes, depresi, tekanan darah tinggi dan penyakit Jantung.


2.      Penyakit jantung

Kemarahan dapat memicu debaran jantung yang lebih cepat. Jika kita  cepat marah, detak jantung kita akan terus meningkat dan akhirnya rentan terserang stoke.

3.      Gangguan tidur

Ketika kita marah, hormon akan bergejolak di dalam tubuh kita. Itulah mengapa risiko kesehatan terburuk dari kemarahan adalah gangguan tidur. Jika tubuh kita tidak mendapatkan istirahat, kita bisa menjadi sasaran empuk bagi banyak penyakit. Sulit tidur bahkan dapat membuat kita jadi gila.

4.      Tekanan darah tinggi

Tekanan darah tinggi dapat disebabkan banyak hal dan kemarahan merupakan salah satu penyebab utamanya. Ketika Kita marah, tekanan darah Kita akan meningkat. Hal ini bisa menyebabkan banyak kerusakan pada jantung Kita.

5.      Masalah pernapasan

Marah juga dapat menyebabkan gangguan pernapasan seperti asma. Seseorang akan merasa sulit bernapas ketika ia marah. Kemarahan juga dapat memicu serangan asma dan membuat napas seseorang terengah-engah.


6.      Sakit kepala

Ketika kita marah, pembuluh darah di otak akan berdenyut liar. Hal ini dapat memicu rasa sakit di kepala. Cobalah untuk tenang segera, jika kita merasa nyeri di kepala kita karena dipicu oleh perasaan marah.

7.      Serangan jantung

Serangan jantung sering terjadi, jika seseorang menjadi sangat emosional, bersemangat atau marah. Kemarahan adalah salah satu penyebab paling berbahaya yang dapat memicu serangan jantung. Itulah sebabnya pasien jantung dilarang untuk terlalu sering mengekspresikan kemarahan mereka.

8.      Stroke

Stroke otak terjadi ketika satu atau lebih pembuluh darah di otak pecah.

Hal ini dapat terjadi seketika kemarahan membuat tekanan darah kita naik sangat tinggi.

Stroke otak dapat membunuh kita atau melumpuhkan kita seketika.


Ini adalah akibat-akibat buruk dari amarah bagi diri kita sendiri. Dan seperti yang sudah sedikit saya singgung, akibatnya bukanlah bagi diri kita saja melainkan akan mendatangkan kerugian juga bagi orang lain. Benarlah jika ada yang mengatakan bahwa kemarahan menyebabkan kerusakan-kerusakan yang merugikan individu-individu dan masyarakat secara fisik dan mental, serta secara material dan moral. Lebih jauh lagi bahwa kemarahan sering melukai perasaan-perasaan manusia, membebani jiwa-jiwa manusia dengan perasaan kebencian, dan menghancurkan pilar-pilar hubungan kasih-sayang.

Sebuah pertanyaan yang patut direnungkan, kenapakah masih banyak orang beragama dengan kemarahan?

Ads 970x90