Tampilkan postingan dengan label World News. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label World News. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Desember 2023

Turki Dibayangi Kekeringan Akibat Perubahan Iklim

Di beberapa daerah indonesia sudah memasuki curah hujan yang lumayan intens tapi tidak dengan negara turki bahkan karna dampak el nino belakangan ini para ahli mengatakan, dengan meluasnya perubahan iklim di tingkat global dan penurunan curah hujan dalam jangka menengah, risiko kekeringan permanen mengancam tiga perempat wilayah Turki,penggunaan bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak bumi dan gas alam dalam beberapa dekade terakhir telah menyebabkan peningkatan suhu rata-rata bumi dan meluasnya perubahan iklim.



Fenomena meteorologi yang tidak dapat diprediksi seperti hujan lebat dan tiba-tiba, banjir, dan kekeringan juga dianggap sebagai akibat dari perubahan iklim.

Terjadinya fenomena El Nino pada tahun 2023 berdampak pada Turki dan juga wilayah lain di dunia.

Menurut laporan Anadolu, meskipun suhu rata-rata musim panas di Turki dari tahun 1991 hingga 2020 adalah 24 derajat, musim panas tahun ini suhu rata-ratanya adalah 24,7 derajat Celcius, sehingga musim panas ini tercatat sebagai musim panas terpanas ketujuh di Turki dalam 53 tahun terakhir.

Suhu yang lebih hangat dari rata-rata jangka menengah dan kurangnya curah hujan pada musim panas lalu telah meningkatkan peringatan mengenai berlanjutnya masalah kekeringan di Turki.

Menurut statistik Direktorat Jenderal Meteorologi Turki, pada tahun air terakhir, negara ini mengalami curah hujan sebesar 540,4 mm, sedangkan jumlah tersebut tercatat 573,4 mm pada periode 1991 hingga 2020.

Kamis, 23 November 2023

Akhirnya setelah 47 hari Berperang Gencatan Senjata Empat Hari di Gaza


 

Rezim Zionis Israel dan Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) mencapai kesepakatan gencatan senjata.

Gencatan senjata antara Israel dan Hamas akan diberlangsung selama empat hari. Berdasarkan kesepakatan ini, 50 tawanan Israel akan ditukar dengan 150 tawanan Palestina. Selain itu, Israel juga akan mengijinkan masuknya bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza.

Gencatan senjata ini diraih melalui mediasi Qatar dan persetujuan Amerika Serikat. Oleh karena itu, alasan pertama dari tercapainya kesepakatan gencatan senjata adalah AS. Amerika sebelumnya tercatat sebagai penentang gencatan senjata, dan menyebut gencatan senjata menguntungkan Hamas.

Faktor lain yang berpengaruh dalam gencatan senjata adalah kegagalan Israel dalam meraih tujuan militernya terhadap Gaza dan Hamas. Kabinet Netanyahu secara khusus gagal menemukan tawanan Zionis yang berada di tangan Hamas dan membebaskannya. Sementara itu, Israel dengan membabi buta membombardir rumah sakit dan sekolah-sekolah di Gaza, termasuk yang berada di bawah pengawasan PBB, karena mengklaim bahwa tawanan Zionis berada di bawah sekolah dan rumah sakit. Seiring dengan gagalnya Israel membebaskan tawanan Zionis, dalam satu pekan lalu terjadi aksi demo besar-besaran di wilayah Palestina pendudukan (Israel), dan warga Zionis menuntut dihentikannya perang dan pembebasan para tawanan.


Faktor lain adalah represi opini publik di tingkat global. Aksi protes dan demo di seluruh dunia mengecam genosida di Gaza oleh Israel meningkat drastis. Selain itu, para demonstran juga mengutuk dukungan Amerika terhadap kejahatan rezim Zionis. Dalam kondisi seperti ini, pemerintah Amerika yang di dalam negeri mendapat tekanan keras dari opini publik, mulai menekan pemerintah Benjamin Netanyahu untuk menerima gencatan senjata.


Hal yang penting adalah bahwa gencatan senjata yang diumumkan di Gaza berarti kegagalan rezim untuk mencapai tujuan yang dinyatakan di Gaza. Setelah 47 hari melakukan pemboman habis-habisan terhadap rakyat Gaza, rezim tersebut terpaksa tunduk pada persyaratan Hamas tanpa berhasil menghancurkan muqawama dan tanpa mendapatkan satu pun tahanan Zionis. Menghentikan serangan terhadap Gaza dan melepaskan 150 perempuan dan anak-anak Palestina pada tahap ini berarti menerapkan persyaratan Hamas pada rezim tersebut.

Rezim Zionis, yang gagal membebaskan tawanannya dalam 47 hari terakhir, hanya setuju untuk melakukan gencatan senjata dengan imbalan pembebasan 50 tahanan untuk setidaknya mengurangi tekanan opini publik di wilayah pendudukan. Padahal, 200 tahanan Zionis masih berada di tangan Hamas, dan di masa depan Hamas dapat menggunakan tahanan Zionis tersebut sebagai kartu as.

Fakta bahwa menerima gencatan senjata tanpa mencapai tujuan militer yang ditetapkan merupakan kegagalan lain bagi rezim Zionis, bahkan membuat menteri kabinet pun mengakui kegagalan tersebut. Itamar Ben Gvir, Menteri Keamanan Internal rezim Zionis, dengan menyatakan ketidakpuasannya terhadap gencatan senjata, mengatakan bahwa kita menyaksikan perpecahan sekali lagi. Pemerintah Israel sekali lagi melakukan kesalahan yang sangat besar. Kesepakatan pertukaran tawanan adalah bencana dan tanda kebodohan kabinet perang.


Sumber : IRNA


Rabu, 22 November 2023

Benjamin Netanyahu Buka Suara soal Deal Hamas-Israel

Belakangan ini konflik israel dan palestina makin memanas seperti di kutip dari The Guardian Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu buka suara atas potensi kesepakatan (deal) antara Israel dan Hamas. Sebelumnya Qatar memediasi kedua pihak yang berkonflik, di mana Hamas akan membebaskan sandera dan Israel harus menghentikan serangan ke Gaza, Palestina.


Hamas menyandera 240 warga Israel dalam serangan 7 Oktober. Gaza sendiri telah dibombardir pasukan Tel Aviv sejak itu, di mana 13.300 orang lebih tewas, dengan dominasi anak-anak dan wanita.

Mengutip The Guardian, Rabu (22/11/2023) pagi, saat ini pemerintah Israel tengah melakukan rapat kabinet untuk membahas deal tersebut. Namun, Netanyahu dalam pidatonya menegaskan meski deal terjadi, perang akan terus berlanjut.

Israel, kata dia, akan melanjutkan perangnya melawan Hamas. Bahkan jika gencatan senjata sementara dicapai untuk membebaskan sandera.

"Kami sedang berperang, dan kami akan melanjutkan perang," katanya juga dimuat media Amerika Serikat (AS), Associated Press (AP).

"Kami akan melanjutkannya sampai kami mencapai semua tujuan kami," tambahnya.

Laporan sama juga dijelaskan Al-Jazeera. Netanyahu menegaskan akan menghancurkan Hamas.

"Ada pembicaraan yang tidak masuk akal di luar sana bahwa setelah mengembalikan korban penculikan, kami akan menghentikan perang," kata Netanyahu lagi.

"Jadi saya ingin mengklarifikasi: Kita sedang berperang, kita akan terus berperang, kita akan terus berperang sampai kita mencapai semua tujuan kita. Kami akan menghancurkan Hamas, kami akan mengembalikan semua korban penculikan dan orang hilang dan kami akan memastikan bahwa di Gaza, tidak akan ada pihak yang menjadi ancaman bagi Israel," jelasnya.

Meski belum pasti, deal antara Hamas dan Israel kemungkinan akan membebaskan sekitar 50 tawanan Israel- wanita dan anak-anak- dalam jangka waktu lima hari. Sekitar 140 tahanan Palestina- wanita dan anak-anak- juga diperkirakan akan dibebaskan dalam beberapa hari.

Namun, sumber-sumber politik mengatakan kepada Channel 13 Israel mengatakan selama fase itu, pengungsi Palestina di Gaza tidak akan bisa kembali ke utara untuk memeriksa rumah mereka. Situasi dilaporkan masih berbahaya.

Sementara itu, Qatar menyebut masih terus menunggu Israel. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majid al-Ansari mengatakan proposal gencatan senjata memang telah diberikan sejak Selasa dini hari.

Kata Petinggi Hamas

Hamas juga memberikan konfirmasi soal kemungkinan deal dengan Israel. Pemimpin Hamas Ismail Haniyeh menegaskan kesepakatan sudah di dekan mata, kemarin.

"Kami hampir mencapai kesepakatan mengenai gencatan senjata," kata Haniyeh, menurut pernyataan yang dikirim oleh kantornya kepada AFP.

Namun sayangnya tak ada detil yang disampaikan. Meski begitu, sebelumnya sejumlah pejabat Hamas mengatakan Israel kerap mempersulit pembicaraan.

"Kami beberapa kali nyaris dan mereka merusak keseluruhan proses," kata juru bicara Osama Hamdan.

"Gencatan senjata harus diimplementasikan sepenuhnya agar kesepakatan yang disepakati dapat disepakati," tegas salah satu pejabat lain Zaher Jabareen.

Rabu, 01 November 2023

Alasan Israel Bombadir Jalur Gaza Terus menerus




Dengan berlanjutnya serangan jet-jet tempur Israel ke berbagai wilayah Jalur Gaza, masjid dan rumah sakit di daerah ini masih tetap menjadi target jet tempur Israel.

Artileri militer Israel juga ikut meramaikan serangan ke Jalur Gaza dan menara masjid di dekat jalan al-Da'wah di Kamp al Nasirat menjadi sasaran dan hancur.

Rezim Zionis tidak puas dengan memperburuk penderitaan pasien kanker di Jalur Gaza dan merampas obat-obatan mereka serta mencegah perjalanan ke luar negeri untuk berobat, namun berupaya untuk membantai pasien-pasien ini melalui serangan berulang-ulang di sekitar rumah sakit dan upaya untuk menghancurkan atau membombardirnya.

Untuk mengusir staf medis dan pengungsi ke Rumah Sakit Al-Aqsa, jet tempur rezim Israel mengebom daerah sekitar rumah sakit ini sebanyak 25 kali dan menurut pengumuman resmi, lebih dari 8.100 orang telah syahid dalam 23 hari pertama perang, kebanyakan dari mereka, menurut UNICEF, adalah anak-anak dan perempuan

Penjajah, yang telah membuktikan bahwa kejahatan mereka tidak ada batasnya dengan pengeboman yang disengaja terhadap Rumah Sakit Al Ahli Al Arabi (Baptist) dan pembantaian perempuan dan anak-anak, telah meningkatkan ancaman mereka untuk menyerang rumah sakit lain, termasuk Rumah Sakit Quds, selama beberapa hari terakhir.


Pengeboman besar-besaran di sekitar rumah sakit al-Shifa, salah satu pusat kesehatan utama di Jalur Gaza, dimulai dengan intensitas yang lebih besar setelah pemboman terhadap tiga rumah sakit di Al-Quds, Turki dan al-Aqsa. Pengeboman ini dilakukan setelah rezim penjajah beberapa kali menginstruksikan rumah sakit tersebut untuk dikosongkan, tapi praktisnya tidak ada peluang untuk mengosongkan rumah sakait ini di saat perang dan tidak adanya sarana pemindahan ribuan orang terluka dan pasien.


Sekjen Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyatakan keprihatinannya atas peringatan rezim Zionis untuk mengevakuasi Rumah Sakit Quds dan menyatakan bahwa kami menegaskan kembali bahwa tidak mungkin mengevakuasi rumah sakit yang penuh dengan pasien.

Pelayanan kesehatan harus selalu sesuai dengan hukum kemanusiaan internasional. Kelanjutan pemboman terhadap pusat-pusat kesehatan di Gaza terjadi ketika Hamas memperingatkan kemungkinan terulangnya pemboman terhadap rumah sakit di Gaza dan terjadinya tragedi lain.

116 anggota tim medis, 18 anggota tim penyelamat dan 35 jurnalis dan aktivis media telah gugur sejak awal agresi penjajah di Jalur Gaza.

Merujuk pada krisis Gaza, Dana Anak Internasional PBB menekankan bahwa situasi anak-anak di Gaza sangat buruk dan jumlah anak yang terbunuh merupakan sebuah tragedi.

Dalam sebuah wawancara dengan Al Jazeera, juru bicara organisasi yang berafiliasi dengan PBB ini menyerukan perlindungan rumah sakit di Gaza dan penciptaan koridor kemanusiaan yang aman bagi warga Jalur Gaza. Dengan diputusnya kebutuhan mendasar seperti air dan listrik, kondisi semakin parah bagi warga Gaza.

Meningkatnya tekanan terhadap pengungsi dan pencari suaka Palestina menjadikan pengiriman bantuan kemanusiaan ke wilayah ini semakin diperlukan, namun rezim Zionis menghalangi masyarakat di wilayah ini untuk mengakses bantuan internasional dengan menghalangi dan menunda berbagai hal serta jumlah bantuan yang diterima tidak sesuai dengan kebutuhan warga Palestina yang tinggal di Gaza.

Sepotong roti dan segelas air putih menjadi kontribusi maksimal harian setiap anak Palestina dari bantuan internasional ke Gaza. Dengan ditutupnya jalur masuk BBM ke Jalur Gaza, maka pengoperasian motor listrik rumah sakit juga secara bertahap berakhir, dan sistem layanan kesehatan di Gaza berada di ambang kehancuran total.

Meskipun rezim Zionis membenarkan kejahatannya di Gaza dengan kedok pembalasan atas operasi mengejutkan Badai Al-Aqsa, dokumen yang tersedia menunjukkan bahwa pemerintahan Netanyahu yang berhaluan sayap kanan dan ekstrem sudah memiliki rencana untuk merelokasi penduduk Gaza dan memanfaatkan operasi badai Al-Aqsa sebagai alasan, dan peluang tersebut telah dimanfaatkan.

Terkait hal ini, surat kabar sayap kiri Haaretz mengungkap rencana rahasia berbahaya yang disiapkan oleh Organisasi Intelijen Zionis, yang berisi proposal untuk memindahkan penduduk Gaza ke Sinai satu hari setelah perang.

Menurut rencana ini, untuk mewujudkan proses ini dan mengevakuasi Gaza, Israel akan mendirikan tenda di awal kota Sinai dan kemudian akan didirikan tempat permanen di Sinai Utara.

Berdasarkan hal ini, menjadi jelas mengapa rezim Zionis memasukkan strategi bumi hangus ke dalam agendanya dan dengan sengaja menggunakan bom berbobot multi-ton untuk menghancurkan menara dan bangunan di Jalur Gaza, dan dalam waktu kurang dari tiga minggu, lebih dari satu juta orang dari total 2,3 juta warga Gaza mengungsi.

Sumber : Irib

Rabu, 25 Oktober 2023

Presiden Turki mengatakan Hamas, bukan organisasi teroris


 

Presiden Turki, mengaku telah membatalkan kunjungannya ke Wilayah pendudukan, dan mengatakan Hamas, bukan organisasi teroris, mereka berjuang untuk membebaskan tanah airnya.

Recep Tayyip Erdogan, Rabu (25/10/2023) seperti dikutip kantor berita Anadolu menegaskan, Hamas bukan organisasi teroris tapi "pasukan pembebasan" yang berjuang untuk tanah air, dan rakyat Palestina. 

Pada saat yang sama Erdogan, mengaku sudah membatalkan rencana kunjungannya ke Wilayah pendudukan. 

"Kami punya niat baik terkait Israel, tapi mereka menyalahgunakan niat baik kami, dan saya sudah membatalkan kunjungan ke Israel," katanya. 

Menurut Presiden Turki, antara bangsa Yahudi, dan Zionis terdapat perbedaan. Ia menuturkan, "Bangsa Yahudi, mengetahui dengan baik bahwa Turki, adalah satu-satunya wilayah yang selama berabad-abad tidak pernah ada anti-Yahudi di dalamnya." 

Erdogan menambahkan, "Amerika Serikat, akan kalah, karena tidak ingin dunia adil. Sekitar setengah dari mereka yang meninggal dalam serangan Israel, ke Gaza, adalah anak-anak, dan ini membuktikan tujuan keterlibatan disengaja dalam kejahatan kemanusiaan."

 "Turki sama sekali tidak punya masalah dengan pemerintah Israel, tapi tidak akan pernah menjustifikasi kejahatan Israel, dan cara kerjanya sebagai sebuah kelompok bukan negara," imbuhnya. 

Presiden Turki, menegaskan bahwa hubungan negaranya dengan Israel, bisa dinormalisasi, tapi Ankara tidak menyaksikan langkah timbal balik dari Israel. (Dari Berbagai Sumber)

Jumat, 04 Desember 2020

Puluhan Penyandang Disabilitas Palestina Ditahan Oleh Israel


 

Dikutip dari Parstoday bahwa Pakar urusan tahanan dan veteran tahanan Palestina, Abdul Naser Ferwaneh mengatakan sekitar 70 penyandang disabilitas Palestina saat ini ditahan di penjara rezim Zionis.

Hal itu disampaikan Ferwaneh pada hari Kamis, 3 Desember 2020 bertepatan dengan peringatan Hari Disabilitas Internasional, seperti dilaporkan Pusat Informasi Palestina.

Dia mencatat bahwa Israel pada Hari Disabilitas Internasional, meningkatkan serangannya terhadap penyandang disabilitas di wilayah pendudukan Palestina dan sama sekali tidak menghormati hak-hak mereka.

Rezim Zionis memenjarakan puluhan orang dengan cacat fisik dan mental di dalam penjara, yang merupakan pelanggaran nyata terhadap semua kesepakatan dan perjanjian internasional,” ucap Ferwaneh.

Sedikitnya 700 tahanan Palestina di dalam penjara Israel menderita berbagai penyakit, termasuk 40 tahanan yang menderita kanker, gagal ginjal, diabetes tingkat lanjut, dan tekanan darah tinggi.

Sekitar 4.800 tahanan Palestina ditahan di penjara-penjara rezim Zionis termasuk 170 anak-anak, 39 wanita, dan puluhan orang lansia.

Sabtu, 19 September 2020

Miliki 90 Ribu Ton Uranium Arab Saudi Cukup untuk Hasilkan Bahan Bakar Nuklir


 Menurut Berbagai sumber bahwa Arab Saudi memiliki cukup bijih uranium untuk menghasilkan bahan bakar nuklir, Guardian mengungkapkan.

Menurut dokumen rahasia yang dilaporkan oleh ahli geologi China untuk kerajaan dan dikutip oleh Guardian, Riyadh sekarang memiliki begitu banyak cadangan bijih uranium sehingga dapat memulai produksi bahan bakar nuklir dalam negeri.

Ahli geologi China dilaporkan membantu Riyadh memetakan cadangan uraniumnya dengan kecepatan sangat tinggi sebagai bagian dari perjanjian kerja sama energi nuklir kedua negara.

Para ahli geologi mengidentifikasi cadangan yang akan mampu menghasilkan lebih dari 90.000 ton uranium dari tiga “endapan utama” di tengah dan barat laut negara itu, kata laporan itu.

Namun, ini adalah “simpanan yang disimpulkan”, dan eksplorasi lebih lanjut diperlukan untuk memastikan cadangan uranium dan menghitung biaya ekstraksi.

Dokumen tersebut disiapkan oleh Institut Riset Geologi Uranium Beijing (BRIUG) dan Perusahaan Nuklir Nasional China (CNNC), bekerja sama dengan Survei Geologi Saudi.

Pengungkapan tersebut akan meningkatkan kekhawatiran tentang minat Arab Saudi dalam program senjata nuklir.

Para ahli memperingatkan bahwa jika Arab Saudi mampu menambang uranium yang cukup di dalam negeri, daripada bergantung pada penyedia asing, maka itu dapat memberi kerajaan dorongan untuk membuat program senjatanya sendiri.

Bruce Riedel dari Brookings Institution mengatakan informasi tersebut menunjukkan bahwa Saudi “secara agresif mengejar prasyarat” untuk program energi atau senjata dan mengamankan sumber uranium dalam negeri akan meningkatkan upayanya.

Kekhawatiran Israel 

Sebuah laporan baru oleh Foreign Policy mengatakan bahwa program nuklir Riyadh dan Abu Dhabi, terutama Arab Saudi, harus menjadi sumber keprihatinan bagi rezim Israel, yang secara resmi telah menormalisasi hubungannya dengan negara-negara Teluk Arab.

“Tidak seperti UEA, [Arab Saudi] belum menyetujui apa yang disebut standar emas pengawasan nuklir. Arab Saudi memiliki perjanjian perlindungan yang sangat terbatas dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Selain itu, berbeda dengan UEA, Saudi belum menandatangani Protokol Tambahan IAEA, yang meningkatkan kemampuan badan tersebut untuk memverifikasi penggunaan damai semua bahan nuklir. Ia tidak mengesampingkan pengayaan uranium, yang menimbulkan kecurigaan bahwa mereka sedang mengejar program nuklir militer,” kata laporan itu.

Program nuklir klandestin Arab Saudi, yang diungkapkan oleh whistle-blower, baru-baru ini dikonfirmasi oleh gambar satelit yang menunjukkan sebuah kompleks besar, di lokasi yang mencurigakan di tengah gurun, sebuah pos pemeriksaan, pagar keamanan yang menjulang tinggi, sebuah bangunan besar sekitar 150 kaki di sisi dan kolam untuk pengumpulan limbah uranium.

Wall Street Journal menemukan fasilitas yang dibangun di daerah terpencil di Arab Saudi untuk mengekstraksi kue kuning uranium dari bijih uranium. Ironisnya, fasilitas tersebut terletak di dekat area produksi panel surya.

Para pengamat mengatakan kemampuan nuklir yang tidak diumumkan oleh Arab Saudi, sangat mengkhawatirkan, mengingat catatan hak asasi manusia Saudi yang buruk, dan keterlibatannya dalam aksi teroris.

Pejabat Barat sekarang cemas tentang fasilitas yang tidak biasa yang terletak di dekat al-Ula, sebuah kota kecil di gurun barat laut Saudi dekat area produksi panel surya.

Para ahli yang diwawancarai oleh Wall Street Journal percaya fasilitas itu adalah salah satu situs nuklir yang tidak diumumkan di kerajaan dengan kapasitas untuk menghasilkan kue kuning uranium.

Pada tahun 2019, IAEA merilis “Pembaruan Proyek Energi Atom Nasional Saudi,” yang merinci rencana Saudi untuk membangun reaktor serta mengisi bahan bakar melalui “lokalisasi” produksi uranium. Menurut dokumen tersebut, Riaydh sedang mencari deposit uranium di wilayahnya sendiri sambil bekerja sama dengan Yordania untuk membuat kue kuning.

Source :Berbagai Sumber

Selasa, 02 Juni 2020

Elon Musk Heran Hanya Satu Polisi Ditangkap Terkait Kematian George Floyd


Sobolangit.com - Di tengah merayakan keberhasilan SpaceX perusahaan Elon Musk, menerbangkan dua astronaut NASA ke antariksa, tepatnya ke International Space Station (ISS). Namun ia turut memperhatikan kematian George Floyd, pria kulit hitam, yang kasusnya menghebohkan Amerika Serikat hingga saat ini.
Seperti diberitakan, Floyd meninggal akibat ditindih polisi di Minneapolis, Derek Chauvin. Chauvin telah dipecat, ditangkap dan akan diproses di pengadilan.

Disaat kejadian, dikabarkan ada tiga polisi lain yang diam saja ketika Floyd menjelang ajal., ketiga polisi itu memang dipecat, tapi tidak diproses hukum. Hal inilah yang mengusik Elon Musk.
Tentu tidaklah benar bahwa polisi yang lain tidak didakwa dengan apapun," tulis pria kelahiran Afrika Selatan itu di Twitter.

"Pesan apa secara umum yang terkirim pada polisi yang diam saja ketika yang lain berbuat salah?" tambah dia lengkap dengan hashtag #JusticeForGeorge.

Selain Musk, para pentolan teknologi menyuarakan dukungan pada komunitas kulit hitam menyusul kematian Floyd. CEO Alphabet dan Google, Sundar Pichai, menyatakan homepage Google dan YouTube wilayah AS memajang dukungan solidaritas untuk warga kulit hitam serta mengenang George Floyd serta korban lain.

"Bagi mereka yang merasakan duka, kemarahan, kesedihan dan ketakutan, kalian tidak sendirian. Kami mendukung kesetaraan rasial dan mereka semua yang mencarinya," sebut pria kelahiran India itu.

Adapun CEO Microsoft, Satya Nadella, menyatakan kaum kulit hitam masih sering menderita. "Rasisme tiap hari, bias dan kebencian di berita hari ini bukan hal baru dan adalah pengalaman yang sering dalam kehidupan sehari-hari, khususnya komunitas kulit hitam Amerika," katanya.
Source : Detik.com

Jumat, 22 Mei 2020

Teroris Daesh Sembunyi di Perbatasan Suriah-Irak Sebanyak 70.000


Menurut Juru bicara Komando Operasi Gabungan Angkatan Bersenjata Irak Brigadir Jenderal Yahya Rasool mengatakan, lebih dari 70.000 teroris Daesh (ISIS) berada di berbagai wilayah perbatasan Suriah dengan Irak.

"Daesh cerai-berai, lemah dan terkepung, namun mereka melakukan sejumlah gerakan untuk mengumumkan eksistensinya," kata Yahya Rasool  pada Jumat (22/5/2020) seperti dilansir IRNA.

Dia manambahkan, Daesh hari ini tidak akan mampu lagi untuk menduduki sebuah wilayah.

Brigjen Yahya Rasool lebih lanjut menyinggung krisis terbaru di Irak dan mengatakan, krisis terbaru seperti demonstrasi dan penyebaran virus Corona, COVID-19 telah melelahkan pasukan keamanan.

Dia juga menyinggung perluasan dan penguatan Angkatan Udara Irak, namun untuk meraih tujuan ini diperlukan anggaran besar.

"Anggaran Kementerian Pertahanan Irak tidak sebesar negara-negara lain di dunia," pungkasnya.

Dalam dua bulan terakhir, Provinsi Salah ad-Din dan Diyala di Irak menjadi target serangan kelompok teroris takfiri Daesh.
Source: Parstoday

Selasa, 12 Mei 2020

Begini Nasib Tahanan Anak Palestina di Penjara Israel Dalam Situasi Covid-19


Sejumlah pejabat PBB menyerukan ke pemerintah Israel pada Senin (11/5) untuk membebaskan para tahanan anak Palestina di tengah situasi wabah corona.
Ajakan ini disampaikan oleh Koordinator Dukungan Kemanusiaan PBB untuk Palestina, Jamie McGoldrick, Kepala Kantor Hak Asasi Manusia PBB di Tepi Barat, James Heenan, dan perwakilan spesial UNICEF, Genevieve Boutin.

“Hak-hak anak untuk penjagaan, keamanan, dan kesejahteraan wajib dijunjung tinggi saban waktu. Pada waktu-waktu normal, penangkapan atau penahanan anak wajib jadi langkah terakhir dan dalam periode waktu yang singkat,” seperti ini bunyi pernyataan mereka.

“Selama pandemi, Negara wajib memberi perhatian lebih pada kebutuhan penjagaan anak dan hak-hak anak, dan kepentingan the best anak kecil wajib jadi pertimbangan Inti dalam seluruh tindakan yang diambil oleh Pemerintah,” tegas mereka.

Israel sudah dikecam berkali-kali sebab menangkap dan mengadili anak kecil Palestina di pengadilan angkatan bersenjata. Data teranyar yang diumumkan oleh organisasi HAM B’tselem mempertunjukkan bahwa rezim Zionis Israel itu sudah menahan 194 anak sampai akhir Maret.

Walaupun Israel sudah membebaskan ratusan tahanan untuk mengendalikan penyebaran virus COVID-19, keputusan strategi yang sama tidak berlaku untuk tahanan Palestina. Ada lebih dari 5.000 tahanan Palestina di penjara-penjara Israel, dengan nyaris 500 di antaranya ditahan tanpa dakwaan atau pengadilan.
Semenjak dimulainya krisis COVID-19 di Israel, proses hukum ditunda, nyaris seluruh Lawatan sel dicancel, dan anak kecil tidak diberi akses langsung ke Famili dan pengacara mereka. Ini menciptakan kerepotan tambahan, kesengsaraan psikologis, dan melarang anak dari akses sokongan hukum yang jadi hak mereka,” tulis para pejabat PBB.

Menurut mereka, tahanan anak Palestina yang tengah menanti persidangan beresiko menerima intimidasi besar untuk mengklaim bersalah agar dibebaskan lebih cepat.
(ra/palestinechronicle)

Rabu, 15 April 2020

Untuk Hadapi Corona Mossad Mengaku Curi Alat Medis


Satuan tugas yang dibentuk dinas intelijen rezim Zionis Israel, Mossad untuk berkerjasama menghadapi wabah Virus Corona mengakui bahwa anggota satuan tugas ini menggunakan berbagai cara termasuk mencuri untuk memperoleh alat medis dari negara lain.

Fars News (14/4/2020) melaporkan, reporter televisi Israel mengumumkan, Mossad menggunakan berbagai cara dalam memperoleh peralatan yang diperlukan untuk menyelamatkan pasien Corona di Israel, sebelum mereka, para pasien di negara lain menggunakan alat ini untuk menyelamatkan nyawanya.

Kepada salah seorang perwira militer anggota satuan tugas Mossad, reporter televisi Israel bertanya, mengingat kondisi sekarang ini, di dunia semakin sedikit dijual alat-alat medis seperti masker, alat bantu pernafasan dan yang lainnya, apakah ini menyebabkan Mossad menggunakan cara tidak biasa ?

Kepala Bidang Teknologi Mossad yang memimpin operasi ini mengakui pencurian juga dilakukan untuk mendapatkan alat medis.

Reporter bertanya, apakah Anda melakukan pencurian meski dalam skala kecil ?

Perwira Israel menjawab, iya bisa dikatakan demikian.


Reporter televisi Israel melanjutkan, apakah ada kemungkinan dalam waktu dekat, pabrik dan korporasi dunia tiba-tiba menyadari peralatan medis mereka hilang, tapi tidak tahu bagaimana hal itu bisa terjadi.

Perwira Mossad menjawab, tidak, kami tidak melakukan pencurian seperti itu, kami mencuri sedikit, artinya kami menggunakan hubungan khusus kami untuk memenangkan perlombaan.

Minggu, 29 Maret 2020

Ilmuwan Iran Temukan Obat Covid-19


Masoud Soleimani kepada kantor berita FNA hari Sabtu (28/3/2020) mengatakan, "Obat virus corona berhasil dibuat dengan mengembangkan sel  punca. Banyak dokter telah memberikan umpan balik positif terhadap penggunaan obat ini untuk mengobati banyak pasien [Covid-19] yang dirawat.


Seorang ilmuwan dari Universitas Tarbiat Modares Tehran berhasil membuat obat Covid-19 dengan mengembangkan sel punca.

"Obat virus corona ini telah memasuki fase awal uji klinis terhadap pasien dalam tiga tahapan yang seluruhnya positif", ujar profesor Soleimani.

Peneliti Stemcell Universitas Tarbiat Madares (TMU) Tehran ini menegaskan, obat yang dibuatnya bisa menyembuhkan pasien virus  corona melalui tiga tahapan dalam waktu tiga hingga enam hari.

Covid-19 terdeteksi pertama kali pada akhir tahun 2019 di Wuhan, Cina.

Selain Cina, virus berbahaya ini telah menyebar ke lebih dari 199 negara dunia, termasuk Iran. Hingga kini, lebih dari 621.000 orang di seluruh dunia telah tertular Covid-19, dan lebih dari 28.700 orang meninggal.

Dilansir dari : parstoday.com

Ads 970x90