Tampilkan postingan dengan label World News. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label World News. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Desember 2023

Turki Dibayangi Kekeringan Akibat Perubahan Iklim

Di beberapa daerah indonesia sudah memasuki curah hujan yang lumayan intens tapi tidak dengan negara turki bahkan karna dampak el nino belakangan ini para ahli mengatakan, dengan meluasnya perubahan iklim di tingkat global dan penurunan curah hujan dalam jangka menengah, risiko kekeringan permanen mengancam tiga perempat wilayah Turki,penggunaan bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak bumi dan gas alam dalam beberapa dekade terakhir telah menyebabkan peningkatan suhu rata-rata bumi dan meluasnya perubahan iklim.



Fenomena meteorologi yang tidak dapat diprediksi seperti hujan lebat dan tiba-tiba, banjir, dan kekeringan juga dianggap sebagai akibat dari perubahan iklim.

Terjadinya fenomena El Nino pada tahun 2023 berdampak pada Turki dan juga wilayah lain di dunia.

Menurut laporan Anadolu, meskipun suhu rata-rata musim panas di Turki dari tahun 1991 hingga 2020 adalah 24 derajat, musim panas tahun ini suhu rata-ratanya adalah 24,7 derajat Celcius, sehingga musim panas ini tercatat sebagai musim panas terpanas ketujuh di Turki dalam 53 tahun terakhir.

Suhu yang lebih hangat dari rata-rata jangka menengah dan kurangnya curah hujan pada musim panas lalu telah meningkatkan peringatan mengenai berlanjutnya masalah kekeringan di Turki.

Menurut statistik Direktorat Jenderal Meteorologi Turki, pada tahun air terakhir, negara ini mengalami curah hujan sebesar 540,4 mm, sedangkan jumlah tersebut tercatat 573,4 mm pada periode 1991 hingga 2020.

Kamis, 23 November 2023

Akhirnya setelah 47 hari Berperang Gencatan Senjata Empat Hari di Gaza


 

Rezim Zionis Israel dan Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) mencapai kesepakatan gencatan senjata.

Gencatan senjata antara Israel dan Hamas akan diberlangsung selama empat hari. Berdasarkan kesepakatan ini, 50 tawanan Israel akan ditukar dengan 150 tawanan Palestina. Selain itu, Israel juga akan mengijinkan masuknya bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza.

Gencatan senjata ini diraih melalui mediasi Qatar dan persetujuan Amerika Serikat. Oleh karena itu, alasan pertama dari tercapainya kesepakatan gencatan senjata adalah AS. Amerika sebelumnya tercatat sebagai penentang gencatan senjata, dan menyebut gencatan senjata menguntungkan Hamas.

Faktor lain yang berpengaruh dalam gencatan senjata adalah kegagalan Israel dalam meraih tujuan militernya terhadap Gaza dan Hamas. Kabinet Netanyahu secara khusus gagal menemukan tawanan Zionis yang berada di tangan Hamas dan membebaskannya. Sementara itu, Israel dengan membabi buta membombardir rumah sakit dan sekolah-sekolah di Gaza, termasuk yang berada di bawah pengawasan PBB, karena mengklaim bahwa tawanan Zionis berada di bawah sekolah dan rumah sakit. Seiring dengan gagalnya Israel membebaskan tawanan Zionis, dalam satu pekan lalu terjadi aksi demo besar-besaran di wilayah Palestina pendudukan (Israel), dan warga Zionis menuntut dihentikannya perang dan pembebasan para tawanan.


Faktor lain adalah represi opini publik di tingkat global. Aksi protes dan demo di seluruh dunia mengecam genosida di Gaza oleh Israel meningkat drastis. Selain itu, para demonstran juga mengutuk dukungan Amerika terhadap kejahatan rezim Zionis. Dalam kondisi seperti ini, pemerintah Amerika yang di dalam negeri mendapat tekanan keras dari opini publik, mulai menekan pemerintah Benjamin Netanyahu untuk menerima gencatan senjata.


Hal yang penting adalah bahwa gencatan senjata yang diumumkan di Gaza berarti kegagalan rezim untuk mencapai tujuan yang dinyatakan di Gaza. Setelah 47 hari melakukan pemboman habis-habisan terhadap rakyat Gaza, rezim tersebut terpaksa tunduk pada persyaratan Hamas tanpa berhasil menghancurkan muqawama dan tanpa mendapatkan satu pun tahanan Zionis. Menghentikan serangan terhadap Gaza dan melepaskan 150 perempuan dan anak-anak Palestina pada tahap ini berarti menerapkan persyaratan Hamas pada rezim tersebut.

Rezim Zionis, yang gagal membebaskan tawanannya dalam 47 hari terakhir, hanya setuju untuk melakukan gencatan senjata dengan imbalan pembebasan 50 tahanan untuk setidaknya mengurangi tekanan opini publik di wilayah pendudukan. Padahal, 200 tahanan Zionis masih berada di tangan Hamas, dan di masa depan Hamas dapat menggunakan tahanan Zionis tersebut sebagai kartu as.

Fakta bahwa menerima gencatan senjata tanpa mencapai tujuan militer yang ditetapkan merupakan kegagalan lain bagi rezim Zionis, bahkan membuat menteri kabinet pun mengakui kegagalan tersebut. Itamar Ben Gvir, Menteri Keamanan Internal rezim Zionis, dengan menyatakan ketidakpuasannya terhadap gencatan senjata, mengatakan bahwa kita menyaksikan perpecahan sekali lagi. Pemerintah Israel sekali lagi melakukan kesalahan yang sangat besar. Kesepakatan pertukaran tawanan adalah bencana dan tanda kebodohan kabinet perang.


Sumber : IRNA


Rabu, 22 November 2023

Benjamin Netanyahu Buka Suara soal Deal Hamas-Israel

Belakangan ini konflik israel dan palestina makin memanas seperti di kutip dari The Guardian Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu buka suara atas potensi kesepakatan (deal) antara Israel dan Hamas. Sebelumnya Qatar memediasi kedua pihak yang berkonflik, di mana Hamas akan membebaskan sandera dan Israel harus menghentikan serangan ke Gaza, Palestina.


Hamas menyandera 240 warga Israel dalam serangan 7 Oktober. Gaza sendiri telah dibombardir pasukan Tel Aviv sejak itu, di mana 13.300 orang lebih tewas, dengan dominasi anak-anak dan wanita.

Mengutip The Guardian, Rabu (22/11/2023) pagi, saat ini pemerintah Israel tengah melakukan rapat kabinet untuk membahas deal tersebut. Namun, Netanyahu dalam pidatonya menegaskan meski deal terjadi, perang akan terus berlanjut.

Israel, kata dia, akan melanjutkan perangnya melawan Hamas. Bahkan jika gencatan senjata sementara dicapai untuk membebaskan sandera.

"Kami sedang berperang, dan kami akan melanjutkan perang," katanya juga dimuat media Amerika Serikat (AS), Associated Press (AP).

"Kami akan melanjutkannya sampai kami mencapai semua tujuan kami," tambahnya.

Laporan sama juga dijelaskan Al-Jazeera. Netanyahu menegaskan akan menghancurkan Hamas.

"Ada pembicaraan yang tidak masuk akal di luar sana bahwa setelah mengembalikan korban penculikan, kami akan menghentikan perang," kata Netanyahu lagi.

"Jadi saya ingin mengklarifikasi: Kita sedang berperang, kita akan terus berperang, kita akan terus berperang sampai kita mencapai semua tujuan kita. Kami akan menghancurkan Hamas, kami akan mengembalikan semua korban penculikan dan orang hilang dan kami akan memastikan bahwa di Gaza, tidak akan ada pihak yang menjadi ancaman bagi Israel," jelasnya.

Meski belum pasti, deal antara Hamas dan Israel kemungkinan akan membebaskan sekitar 50 tawanan Israel- wanita dan anak-anak- dalam jangka waktu lima hari. Sekitar 140 tahanan Palestina- wanita dan anak-anak- juga diperkirakan akan dibebaskan dalam beberapa hari.

Namun, sumber-sumber politik mengatakan kepada Channel 13 Israel mengatakan selama fase itu, pengungsi Palestina di Gaza tidak akan bisa kembali ke utara untuk memeriksa rumah mereka. Situasi dilaporkan masih berbahaya.

Sementara itu, Qatar menyebut masih terus menunggu Israel. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majid al-Ansari mengatakan proposal gencatan senjata memang telah diberikan sejak Selasa dini hari.

Kata Petinggi Hamas

Hamas juga memberikan konfirmasi soal kemungkinan deal dengan Israel. Pemimpin Hamas Ismail Haniyeh menegaskan kesepakatan sudah di dekan mata, kemarin.

"Kami hampir mencapai kesepakatan mengenai gencatan senjata," kata Haniyeh, menurut pernyataan yang dikirim oleh kantornya kepada AFP.

Namun sayangnya tak ada detil yang disampaikan. Meski begitu, sebelumnya sejumlah pejabat Hamas mengatakan Israel kerap mempersulit pembicaraan.

"Kami beberapa kali nyaris dan mereka merusak keseluruhan proses," kata juru bicara Osama Hamdan.

"Gencatan senjata harus diimplementasikan sepenuhnya agar kesepakatan yang disepakati dapat disepakati," tegas salah satu pejabat lain Zaher Jabareen.

Rabu, 01 November 2023

Alasan Israel Bombadir Jalur Gaza Terus menerus




Dengan berlanjutnya serangan jet-jet tempur Israel ke berbagai wilayah Jalur Gaza, masjid dan rumah sakit di daerah ini masih tetap menjadi target jet tempur Israel.

Artileri militer Israel juga ikut meramaikan serangan ke Jalur Gaza dan menara masjid di dekat jalan al-Da'wah di Kamp al Nasirat menjadi sasaran dan hancur.

Rezim Zionis tidak puas dengan memperburuk penderitaan pasien kanker di Jalur Gaza dan merampas obat-obatan mereka serta mencegah perjalanan ke luar negeri untuk berobat, namun berupaya untuk membantai pasien-pasien ini melalui serangan berulang-ulang di sekitar rumah sakit dan upaya untuk menghancurkan atau membombardirnya.

Untuk mengusir staf medis dan pengungsi ke Rumah Sakit Al-Aqsa, jet tempur rezim Israel mengebom daerah sekitar rumah sakit ini sebanyak 25 kali dan menurut pengumuman resmi, lebih dari 8.100 orang telah syahid dalam 23 hari pertama perang, kebanyakan dari mereka, menurut UNICEF, adalah anak-anak dan perempuan

Penjajah, yang telah membuktikan bahwa kejahatan mereka tidak ada batasnya dengan pengeboman yang disengaja terhadap Rumah Sakit Al Ahli Al Arabi (Baptist) dan pembantaian perempuan dan anak-anak, telah meningkatkan ancaman mereka untuk menyerang rumah sakit lain, termasuk Rumah Sakit Quds, selama beberapa hari terakhir.


Pengeboman besar-besaran di sekitar rumah sakit al-Shifa, salah satu pusat kesehatan utama di Jalur Gaza, dimulai dengan intensitas yang lebih besar setelah pemboman terhadap tiga rumah sakit di Al-Quds, Turki dan al-Aqsa. Pengeboman ini dilakukan setelah rezim penjajah beberapa kali menginstruksikan rumah sakit tersebut untuk dikosongkan, tapi praktisnya tidak ada peluang untuk mengosongkan rumah sakait ini di saat perang dan tidak adanya sarana pemindahan ribuan orang terluka dan pasien.


Sekjen Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyatakan keprihatinannya atas peringatan rezim Zionis untuk mengevakuasi Rumah Sakit Quds dan menyatakan bahwa kami menegaskan kembali bahwa tidak mungkin mengevakuasi rumah sakit yang penuh dengan pasien.

Pelayanan kesehatan harus selalu sesuai dengan hukum kemanusiaan internasional. Kelanjutan pemboman terhadap pusat-pusat kesehatan di Gaza terjadi ketika Hamas memperingatkan kemungkinan terulangnya pemboman terhadap rumah sakit di Gaza dan terjadinya tragedi lain.

116 anggota tim medis, 18 anggota tim penyelamat dan 35 jurnalis dan aktivis media telah gugur sejak awal agresi penjajah di Jalur Gaza.

Merujuk pada krisis Gaza, Dana Anak Internasional PBB menekankan bahwa situasi anak-anak di Gaza sangat buruk dan jumlah anak yang terbunuh merupakan sebuah tragedi.

Dalam sebuah wawancara dengan Al Jazeera, juru bicara organisasi yang berafiliasi dengan PBB ini menyerukan perlindungan rumah sakit di Gaza dan penciptaan koridor kemanusiaan yang aman bagi warga Jalur Gaza. Dengan diputusnya kebutuhan mendasar seperti air dan listrik, kondisi semakin parah bagi warga Gaza.

Meningkatnya tekanan terhadap pengungsi dan pencari suaka Palestina menjadikan pengiriman bantuan kemanusiaan ke wilayah ini semakin diperlukan, namun rezim Zionis menghalangi masyarakat di wilayah ini untuk mengakses bantuan internasional dengan menghalangi dan menunda berbagai hal serta jumlah bantuan yang diterima tidak sesuai dengan kebutuhan warga Palestina yang tinggal di Gaza.

Sepotong roti dan segelas air putih menjadi kontribusi maksimal harian setiap anak Palestina dari bantuan internasional ke Gaza. Dengan ditutupnya jalur masuk BBM ke Jalur Gaza, maka pengoperasian motor listrik rumah sakit juga secara bertahap berakhir, dan sistem layanan kesehatan di Gaza berada di ambang kehancuran total.

Meskipun rezim Zionis membenarkan kejahatannya di Gaza dengan kedok pembalasan atas operasi mengejutkan Badai Al-Aqsa, dokumen yang tersedia menunjukkan bahwa pemerintahan Netanyahu yang berhaluan sayap kanan dan ekstrem sudah memiliki rencana untuk merelokasi penduduk Gaza dan memanfaatkan operasi badai Al-Aqsa sebagai alasan, dan peluang tersebut telah dimanfaatkan.

Terkait hal ini, surat kabar sayap kiri Haaretz mengungkap rencana rahasia berbahaya yang disiapkan oleh Organisasi Intelijen Zionis, yang berisi proposal untuk memindahkan penduduk Gaza ke Sinai satu hari setelah perang.

Menurut rencana ini, untuk mewujudkan proses ini dan mengevakuasi Gaza, Israel akan mendirikan tenda di awal kota Sinai dan kemudian akan didirikan tempat permanen di Sinai Utara.

Berdasarkan hal ini, menjadi jelas mengapa rezim Zionis memasukkan strategi bumi hangus ke dalam agendanya dan dengan sengaja menggunakan bom berbobot multi-ton untuk menghancurkan menara dan bangunan di Jalur Gaza, dan dalam waktu kurang dari tiga minggu, lebih dari satu juta orang dari total 2,3 juta warga Gaza mengungsi.

Sumber : Irib

Rabu, 25 Oktober 2023

Presiden Turki mengatakan Hamas, bukan organisasi teroris


 

Presiden Turki, mengaku telah membatalkan kunjungannya ke Wilayah pendudukan, dan mengatakan Hamas, bukan organisasi teroris, mereka berjuang untuk membebaskan tanah airnya.

Recep Tayyip Erdogan, Rabu (25/10/2023) seperti dikutip kantor berita Anadolu menegaskan, Hamas bukan organisasi teroris tapi "pasukan pembebasan" yang berjuang untuk tanah air, dan rakyat Palestina. 

Pada saat yang sama Erdogan, mengaku sudah membatalkan rencana kunjungannya ke Wilayah pendudukan. 

"Kami punya niat baik terkait Israel, tapi mereka menyalahgunakan niat baik kami, dan saya sudah membatalkan kunjungan ke Israel," katanya. 

Menurut Presiden Turki, antara bangsa Yahudi, dan Zionis terdapat perbedaan. Ia menuturkan, "Bangsa Yahudi, mengetahui dengan baik bahwa Turki, adalah satu-satunya wilayah yang selama berabad-abad tidak pernah ada anti-Yahudi di dalamnya." 

Erdogan menambahkan, "Amerika Serikat, akan kalah, karena tidak ingin dunia adil. Sekitar setengah dari mereka yang meninggal dalam serangan Israel, ke Gaza, adalah anak-anak, dan ini membuktikan tujuan keterlibatan disengaja dalam kejahatan kemanusiaan."

 "Turki sama sekali tidak punya masalah dengan pemerintah Israel, tapi tidak akan pernah menjustifikasi kejahatan Israel, dan cara kerjanya sebagai sebuah kelompok bukan negara," imbuhnya. 

Presiden Turki, menegaskan bahwa hubungan negaranya dengan Israel, bisa dinormalisasi, tapi Ankara tidak menyaksikan langkah timbal balik dari Israel. (Dari Berbagai Sumber)

Ads 970x90